Ternyata Vlogging itu Berat


Sebenarnya ini adalah tulisan yang kesekian kali tentang vlogging, namun sepertinya saya perlu berbagi pengalaman tentang vlogging. Siapa tahu bisa menjadi bahan referensi bagi teman-teman yang ingin terjun ke dunia vlogging.

Menurut pengamantan saya, vlogging sangat identik dengan berbagi aktifitas sehari-hari dalam bentuk video. Namun berdasarlan penalaran saya yang namanya vlogging itu ya semuanya bentuk konten yang disajikan dalam bentuk video adalah vlogging.

Faktanya, berdasarkan pengalaman saya, vlogging itu berat. Apalagi ada yang namanya daily vlog. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana lelahnya. Saya saja yang bisa dikatakan upload video di youtube seminggu sekali terkadang merasa lelah. O ya mampir ke channel saya ya. Namanya sumertawan juga.

Nah saya akan berbagi pengalaman beratnya vlogging. Pada tulisan lainnya mungkin saya akan berbagi cerita enaknya vlogging he he he.

DSLR yang Berat

Siapa yang vlogging dengan DSLR? Ayo angkat tangan. Saya vlogging dengan DSLR, tepatnya dengan EOS 200D.

Walaupun kamera ini termasuk kamera yang kecil, namun tetap saja cukup berat menurut saya saat dipakai vlogging, apalagi jika disandingkan dengan gorillapod.

Tidak terbayang apa yang dirasakan oleh vlogger yang memakai Canon 80D ataupun DSLR lainnya. Paling tidak juga merasakan berat lah sedikit.

Namun tentu saja tetap apa yang dirasakan vlogger yang memakai DSLR berbeda-beda.

Menjadi Pusat Perhatian

Dijamin menjadi perhatian banyak mata saat vlogging di depan umum. Apalagi jika kamu nge-vlog di daerah yang penduduknya tidak familiar dengan kamera, misalnya di desa.

Bahkan di kota pun bisa saja terjadi, walaupun tidak selalu. Faktanya di dunia nyata, saat di wilayah publik, sangat jarang sekali ada orang yang nge-vlog.

Misalnya beberapa pengalaman terakhir saya. Saat saya travelling ke Lampung dari Jogja, disepanjang perjalanan saya "nyambi" nge-vlog.

Saya diperhatikan banyak orang ketika berbicara di depan kamera saat saya berada di atas kapal penyeberangan Merak-Bakauheni. Namun saya usahakan tetap cuek saja, demi youtube he he he.

Bahkan ada salah satu penumpang yang bertanya langsung kepada saya, apakah saya travelling vlogger? Mau tahu jawaban saya apa?

Saya jawab bukan. Karena saya vloggingnya berdasarkan hobi saja dan karena kurang kerjaan. Mengapa saya bilang begitu? Karena isi vlog saya bisa dikatakan tidak jelas alias ngalor ngidul. Hanya sekedar untuk happy-happy. Untung saja videonya masih ada yang nonton he he he.

Repot Membawa Kamera

Poin ini ada kaitannya dengan poin pertama. Sudah pasti ribet karena kamu harus siap dengan DSLR di tangan dan tripod/gorillapod/mini tripod atau apalah itu, untuk memegang kamera.

Apalagi jika anda memiliki tangan yang kecil dan memakai DSLR, sudah pasti akan lebih repot lagi.

Jadi biar tidak repot dn berat, baiknya vlogging dengan hp dan paling tidak action camera saja.

Menyita Waktu

Vlogging cukup menyita waktu, khususnya pada saat editing. Saat shooting mungkin bisa sambil enjoy saja, namun berbeda pada saat editing.

Paling tidak kamu harus meluangkan waktu paling tidak minimal tiga jam untuk editing. Ingat ya, minimal. Jadi bisa jadi akan memakan waktu lebih lama untuk menghasilkan video yang bagus.

Akan lebih lama lagi jika keahlian editing anda dibawah rata-rata. Lebih-lebih jika komputer atau laptop yang kamu pakai untuk editing adalah komputer jadul (seperti laptop saya), maka lebih lama-lama-lama lagi.

Lelah

Pasti dong. Setelah melakukan editing video berjam-jam sudah pasti kamu akan capek alias lelah.

Namun biasanya rasa lelah ini terbayar dengan dengan rasa puas setelah menekan tombol upload di laman youtube.

Okay kurang lebih itu beberapa poin beratnya vlogging, menurut saya sih.

Comments