Review Boya By-MM1 di Canon EOS 200D

Gambar dari aliexpress.com

Vlogging, istilah yang tidak asing di telinga generasi muda saat ini. Perlengkapan vlog wajib dimiliki bagi yang ingin serius nge-vlog. Salah satunya adalah mikrofon. Nah pada postingan kali ini saya akan membahas mengenai mikrofon Boya By-MM1.

Saya sudah memakai mic ini sekitar 2 bulan. Ini adalah alternatif mic murah untuk vlog, karena teman-teman pasti tahu bukan kalau mau pakai RODE sudah pasti menguras isi kantong.

Saya bukanlah orang yang ahli dalam hal audio, jadi mohon maaf sekiranya jika ada kesalahan dalam menuliskan review ini. Review yang saya tulis ini murni berdasarkan pengalaman orang awam. Saya juga baru pertama kali memiliki mic ini, saya membelinya di India, saat akan pulang ke Indonesia.

Apa saja poin yang ingin saya bahas tentang Boya By-MM1? yuk langsung saja baca kelanjutannya.

Kecil

Mic ini bisa dibilang adalah kompetitor dari RODE Micro. Ukurannya kurang lebih sama, juka dilihat sekilas saat sudah terpasang dead cat, maka tidak akan terlihat perbedaannya. Mungkin yang membedakan adalah tulisan label yang tertulis di body mic. Termasuk juga label yang tertulis di dead cat. 


Murah

Harga murah inilah alasan utama saya membeli mic ini. Awalnya saya hanya ingin coba-coba, ingin merasakan bagaimana pengalaman merekam audio dengan mic shotgun kecil. Jadi karena ingin coba-coba dulu makanya membeli yang murah saja. Seperti iklan HIT mengatakan "kalau ada yang lebih murah, untuk apa bayar lebih mahal". Betul?

Lucu

Setelah dipasang di kamera, kamera saya terlihat lucu, begitu menurut saya. Jadi terlihat seperti ekor kucing yang buntung menempel di atas kamera. O ya, mic ini saya pasangkan dengan Canon EOS 200D. Jika ada kesempatan akan saya tuliskan pengalaman saya menggunakan kamera ini.

Noise

Setelah di pasang di kamera, kita harus mengatur audio recording di kamera. Karena jika memilih menu otomatis maka suara "hiss" akan sangat jelas terdengar. Jadi paling tidak kita harus mempunyai keahlian mengatur audio.

Karena saya awam soal mic seperti ini, jadi awalnya saya sempat kecewa kepada mic ini karena noise yang dihasilkan sangat keras. Namun pelan-pelan setelah mempelajari cara pengaturan audio, noise bisa diminimalkan, walaupun masih ada.

Noise yang dihasilkan juga saya perbaiki dengan Audacity. Jadi memang agak ribet sedikit di proses editing. Audio yang dihasilkan harus dihilangkan dengan fitur Noise reduction. Saya pilih Audacity sebagai audio editor karena sementara cuma itu yang saya bisa, he he.

Suara dari Belakang Kurang Jelas

Saya tidak tahu kenapa jika saya berbicara di belakang kamera, suara saya terekam sangat pelan. Mungkin karena ini directional mic ya. Katanya sih itu adalah salah satu kelemahan directional mic. Namun karena sudah terlanjur punya, ya mau tidak mau diterima saja.

Mungkin itu saja yang bisa diulas dari mic ini. Mic ini adalah mic terbaik dikelasnya untuk teman-teman yang membutuhkan directional mic untuk vlogging. Jika punya dana lebih, maka silahkan mic sekelas RODE.

Namun dari video yang yang tonton di youtube, bahkan RODE pun menghasilkan noise. Jadi bijaklah memilih mic untuk kamera anda.

Comments