Kesempatan MELASTI Di Kampung Bali Sadar, Way Kanan, Lampung


Baleganjur di Pura Penataran Agung

Saya sudah tidak ingat lagi kapan waktu terakhir saya mengikuti upacara melasti di kampung halaman saya semenjak merantau ke Yogyakarta. Akhirnya setelah sekian tahun tidak pernah ikut melasti di kampung halaman, tahun ini saya mendapat kesempatan itu.

Senang? ya tentu saja. Bahkan sangat senang.

Teman-teman tentu tahu bahwa melasti adalah salah satu runtutan acara dari Hari Raya Nyepi. Maka upacara melasti sudah pasti dilakukan setiap tahunnya.

Seperti biasa melasti di kampung Bali Sadar dilakukan secara bersama oleh semua umat Hindu di tiga kampung yaitu Bali Sadar Selatan, Bali Sadar Tengah, dan Bali Sadar Utara. Melasti dilaksanakan di tepi Kali Neki yang berada di Bali Sadar Utara.

Melasti di sini dilaksanakan pada hari senin 4 Maret 2019. Adapun runtutan acara melasti di Bali Sadar adalah sebagai berikut (berdasarkan apa yang saya amati ya):

Sehari Sebelum Melasti

Sehari sebelum Melasti, semua Sesuhunan Ida Bethara dari masing-masing pura yang ada di Bali Sadar akan berkumpul di Pura Kahyangan Tunggal. Pura Kahyangan Tunggal ini berada di kampung Bali Sadar Tengah.

Sesuhunan Ida Bethara yang sudah di-sthanakan di Jempana diarak ke Pura Kahyangan Tunggal pada hari minggu sore, yaitu 3 Maret 2019.
Suasana di Pura Kahyangan Tunggal

Pada hari itu, 3 Maret 2019 saya ikut rombongan dari Pura Penataran Agung di Banjar Sari Agung, Bali Sadar Tengah. Ida Sesuhunan di pura ini berangkat ke Pura Kahyangan Tunggal sekitar jam 16:30 dengan berjalan kaki.

Sayang sekali saat berangkat hujan mulai turun, jadi mau tidak mau berjalan kaki sambil menerobos hujan. Hujan bertambah deras ketika rombongan kami sampai di Pura Kahyangan Tunggal. Sesampai di Pura Kahyangan kami mengikuti persembahyangan bersama sebelum kembali pulang ke rumah masing-masing.

Kami harus menunggu hujan mereda kurang lebih satu jam. Saat hujan rintik-rintik kami pun mulai berangkat pulang.



Jadi berkumpulnya Sesuhunan Ida Bethara dari masing-masing pura di Pura Kahyangan Tunggal ini sudah merupakan agenda yang wajib dilaksanakan oleh semua pura yang ada di Kecamatan Banjit. Tujuannya adalah agar keesokan harinya semua Jempana bisa berangkat bersama-sama dari Pura Kahyangan menuju ke tempat melasti.

Sebenarnya pada malam harinya pada hari itu ada lomba Dharma Wacana untuk generasi muda Hindu di Pura Kahyangan Tunggal. Namun karena kondisi hujan, saya tidak bisa berpartisipasi hadir untuk menonton, padahal adik saya adalah salah satu pesertanya.

Hari H Melasti

Pada hari H melasti, umat Hindu kembali berbondong-bondong ke Pura Kahyangan Tunggal. Kami berkumpul di Pura Kahyangan untuk berangkat bersama-sama ke tempat melasti.

Sesampai di Pura Kahyangan kami melakukan persembahyangan. Kemudian menunggu perintah untuk berangkat.
Perjalanan menuju tempat Melasti

Jika tidak salah, kami semua berangkat ke tempat melasti sekitar jam delapan pagi. Kami berjalan cukup jauh, jaraknya sekitar 4-5 kilometer. Namun karena kami berjalan beramai-ramai, ribuan orang, rasa lelah berjalan kaki tidak terasa. Apalagi berjalan kaki dengan diiringi musik Baleganjur.

Sesampainya di tempat melasti kamipun mencari tempat duduk yang nyaman, sementara semua Jempana di bawa masuk ke Mandala Utama tempat melasti. Serangkaian kegiatan juga dilaksanakan di tempat melasti. Misalnya sambutan dari panitia melasti, Parisada, dan pejabat lainnya yang diundang.

Jika saya tidak salah, melasti dihadiri oleh Wakil Bupati Way Kanan, jadi sudah pasti bapak Wakil Bupati memberikan sambutan.
Di Pura Puseh 

Acara utama dari melasti ini adalah memohon tirtha suci dari tempat melasti dengan menghaturkan sesaji. Diiringi juga dengan tari Rejang Renteng. Setelah acara inti selesai, dilanjutkan dengan persembahyangan bersama.

Setelah persembahyangan bersama, maka iring-iringan Jempana berangkat pulang ke pura masing-masing diiringi oleh umat dari pura tersebut. Seperti halnya kami umat dari Banjar Sari Agung, Bali Sadar Tengah - kami mengiringi Jempana dari Pura Puseh dan Pura Penataran Agung.

Saya mengiringi Sesuhunan Ida Bethara Pura Puseh pada saat pulang, ya...karena Pura Puseh tepat di depan rumah saya. Jadi begitu selesai aktivitas di Pura Puseh saya bisa langsung lompat ke rumah. he he he.


Comments