Beli Kamera: Keinginan atau Kebutuhan?

Gambar dari www.imaging-resource.com

Ok...mulai lagi bloggingnya, setelah sekian lama vakum. Tulisan kali ini saya akan berbagi tentang kegalauan saya mengenai keinginan dan kebutuhan. Yang saya maksud di sini adalah galau mengenai membeli kamera.


Mengapa galau?...ya karena beberapa alasan. Salah duanya adalah karena kamera yang diincar harganya terlalu mahal menurut kantong saya, dan disatu sisi saya ngebet banget ingin memiliki kamera itu. Jadi saya sempat berfikir...ini saya memang benar-benar butuh kamera ini atau hanya sekedar keinginan saya.

Di lain hal...saya memiliki sebuah rencana untuk membuat video dokumentasi mengenai tanaman herbal dan membuat video edukasi mengenai tanaman herbal dan aktivitas lainnya yang berkaitan dengan kesehatan.

Pada sisi yang lain saya juga suka jeprat-jepret. Jadi tambah bingung kan. Beli camcorder saja atau beli kamera mirrorlesss atau DSLR atau bridge kamera. Wah pokoknya bingungnya bertambah.

Gambar dari www.iamging-resource.com

Kalau soal jeprat jepret foto memang sudah dari kecil suka, karena kebetulan paman saya dulu memiliki studio foto. Kakak saya juga dulu sebagai tukang foto (kalo di desa fotografer disebut tukang foto...hehe). Bahkan saya sejak SMP sudah terbiasa memakai SLR dan saat SMA saya paruh waktu membantu paman di studionya dan menjadi tukang foto keliling. Lumayanlah saat itu untuk tambahan uang saku sekolah.

Sekitar dua atau tiga tahun lalu ngebet sekali ingin punya DSLR karena efek lihat postingannya Barry Kusuma di kaskus mengenai foto-fotonya dari hasil traveling. Jadi saat itu memiliki keinginan ikut berburu foto untuk dijual. Namun apa daya keinginan tak sampai. Hehe.

Satu bulan terakhir ini kena demam Agung Hapsah, yang diusia muda sudah memiliki skill yang mumpuni dalam editing video. Walaupun saya bisa editing video namun tidak se-ahli Agung Hapsah ya, karena tidak terlalu mendalami. dan karena melihat video-videonya Agung saya langsung instal Adobe Premiere, Adobe After Effect (walaupun trial haha...malu bilang bajakan).

Belum lagi melihat video-video youtuber lainnya seperti arap, mas Liaw (aduh lupa namanya), linus tech, dan masih banyak lagi. Kok kayaknya hidup mereka enak sekali ya. Hehe...kayaknya begitu muter keran air di kamar mandi, keluarnya adalah uang buat beli kamera, bukan air. :D

Sebelumnya saya hanya editing memakai Windows Movie Maker, Camtasia dan maksimal Sony Vegas Pro. Itu adalah efek dari Agung Hapsah...positifnya adalah menyemangati saya untuk belajar editing lagi. Namun juga membuat keinginan saya menggebu-gebu untuk membeli kamera. Mumet dah.
gambar dari sony.com

Membaca ulasan kamera dan menonton video ulasan kamera di Youtube membuat saya tambah bingung. Kamera A bagus, kamera B bagus, kamera C bagus juga. Youtuber C bilang kalau kamera A bagus, youtuber B bilang kalau kamera C bagus. Tambah bingung.

Katanya kalau untuk vlogging kamera ini bagus, kalau untuk still foto kamera itu bagus. Kamera ini sensornya bear, bagus untuk low light, kamera itu layarnya artikulated, kamera yang lain zoomnya panjang. Wahhh...pokoknya racun dah. Begitu di cek harganya...jadi keselek. Bingung antara beli kamera atau duitnya diinvestasikan.

Belum lagi mengenai kamera ini autofokusnya cepet, kamera itu bisa post fokus dan masih banyak lagi poin-poin yang membuat bingung.

Untungnya saya tinggal di desa...jadi tidak ada kesempatan untuk langsung ke toko kamera pilih-pilh kamera (karena di desa tidak ada toko kamera). Coba saya di kota...pasti sudah langsung capcus ke toko kamera.

Jadi...sebaiknya gimana ya?

Comments